Jumat, 27 Mei 2011

ku tau kemana ia pergi
ku merasakan arahnya
ku mengerti maksudnya
ku memahami inginya

ku melepasnya
karena ku hanya menggenggam angin
yang ku tau terlalu musykil

Minggu, 22 Mei 2011

                                                           UNTITLE
“Benar-bnar nggak ingin mengatakan sesuatu?” Alfa memandang sosok di depannya yang membeku. Sosok itu hanya menggeleng. Pertanda tak ada yang ingin di ucapkanya. “Ok, aku pulang.”
Alfa mendesah. Sosok di depanya lagi-lagi tak bereaksi. Kehadirannya sama sekali tak diinginkan. Dia tak mengerti, kenapa gadis itu tidak meneriakkan kemarahannya. Jadi ia tau apa yang akan di lakukannya. Gadis itu, Hana, yang ia tau sedang marah. Namun diam bagai batu yang mendingin. Mungkinkah kemarahanyya telah mencapai akhir.
Dengan langkahnya yang berat, Alfa meninggalkan Hana yang masih duduk di teras kontrakannya. Dia melihat pandangan gadis itu tidak fokus. Namun ia tidak bisa mengatakan apa makna yang ada. Selalu dia yang kalah. Selalu dia yang tak dapat mengendalikan emosinya.
*
“Kenapa?” Ambar berhenti bercerita tentang novel yang baru saja di bacanya seta berhenti total mengunyah snack yang dibawanya saat di lihatnya Hana sama sekali tidak merespon apa yang di katakannya. Dia terkejut saat di lihatnya wajah karibnya sangat pucat.
“Nggak apa-apa.” Hana hanya menggeleng. Di paksakannya sebuah senyum.
“Lo laper? Kenapa nggak bilang dari tadi. Jadi gue nggak ngehabisin snack yang gue bawa.” Dengan gayanya yang polos, Ambar menjentik hidun Hana. Kemudian menyerahkan snack yang dibawanya.
“Gue nggak laper.” Hana menggeleng lagi.dia malah menelungkupkan kepalanya ke meja. Ada isak tertahan di sana. Dan Ambar baru menyadari ada yang tidak beres.
“Ceritalah .KaLau lo udah sanggup.” Ambar menegelus pundak Hana. Hana tersentak. Dia hapal, seseorang sering melakukan ini untuknya. Dia langsung duduk tegak. Alisnya menjadi satu. Membuat Ambar bingung dengan perubahan yang sepertikilat. Atau ia yang melakukan kesalahan.
Begitu mengerti. Begitu paham siapa yang sering melakukan ini, dia langsung menggeleng. “Ambar, lo beliin gue bakso.” Tinggal bersama kurang lebih enam bulan membuat Ambar mengerti. Hana telah berpikir untuk mengerti keadaan. Dan biasanya itu di ikuti dengan makan bakso.
Ambar langsung kabur. Akan ada cerita yang menarik. Diserobotnya anak-anak yang antri membeli bakso. Begitu mendapatkan apa yang ia inginkan ia langsung berlari menuju rumah kontrakannya yang kecil. Melihat Hana telah menyiapkan sebotol air dingin.
Ambar hanya menelan ludah karena Hana melahap habis baksonya. Matanya  mengeluarkan iar mata mungkin karena terlalu pedas. Di tunggunya dengan sabar sampai karib di depannya itu selesai dengan bakso racikannya yang sudah seperti racun. Betapa tidak, bau cabaimenguar dari kuah yang kental oleh kecap dan saus. Ambar bergidik, nanti siang akan ada insiden rebutan kamar mandi.
“Gue putus.” Kalimat yang singkat, padat, dan datar, namun langsung berefek dahsyat. Terbukti Ambar langsung berubah posisi dari duduk menjadi berdiri.
“Lo serius?” Ambar menahan nafasnya. Sehingga pertanyaanya berubah menjadi penggalan-penggalan kata. Seolah kalimat itu benar-benar di tekankan untuk mencari kebenaran yang di ajukan kepada Hana.
Hana mengangguk Di alihkannya pandangannya keluar jendela. Mencari hijaunya daun belimbing untuk kesejukan hatinya. Namun ia tau, ia tak akan bisa menyembunyikan tangisnya dari seorang Ambar.
Ambar ak perlu bertanya lagi. Pertanyaanya adalah pertanyaan paling bodoh yang pernah ada. Dari seluruh tubuh Hana telah meneriakkan kebenaran yang di ucapkannya barusan. Matanya yang menitikkan air mata penyesalan, wajah yang pucat itupun suatu bentuk ekspresi tertekan, juga tubuhnya yang lemas meneriakkan pesakitan. Ambar bergerak, memberikan air putih yang tersisa di meja. Hana menerimanya. Kemudian tangisnya tak hanya air mata. Ada suara yang keluar.
Setelah isak tangisnya berhenti, setelah ada senyum yang di paksakan dari Hana, Ambar memberanaikan diri bertanya, “Kenapa?”
Mengalirlah cerita itu. Tersendat-sendat. Terkadang kalimat yang di sampaikan rancu bahkan tekadang ambar sama sekali tak mengerti. Namun Ambar bisa mengambil intinya. Dan sekarang semuanya sudah terjadi. Hanya Hana yang mempunyai kunci itu. Namunsayang kuncinya telah di buangnya.
Alfa kehilangan akal. Tidak ada lagi harapan yang bisa ia tebarkan di kaki langit. Sudah waktunya ia melupakan, bukan melupakan, tapi meninggalkan kenangan masa lalunya. Meniti masa yang baru. Di buangnya jauh-jauh mimpi yang pernah ia rajut. Ekarng adalah melanjutkan mimpinya yang berbeda namun berhubungan satu sama lain, hanya saja ada banyak hal yang perlu di edit. Dan ia telah menyiapkannya. Tak pedili seberapa sulit itu baginya.
            Dimas memotret semua bagian dari kamarnya. Segala apa yang ada di sana tak luput dari bidikan kameranya. Setelah di rasanya cukup baruia berhenti. Memindahkan file-file nya ke leptop tercinta, dan tersenyum saat ia tahu hasil yang ia dapatkan kurang bagus bidikannya.
2 tahun kemudian......
Malam telah beranjak pagi. Hana masih saja berkutat di depan komputernya. Tugas-tugansnya yang menumpuk membuat ia betah di depan komputer. Belum lagi penyakit insomnianya yang kumat membuat ia harus begadang sepanjang malam. Dan biasanya ia baru akan mengantuk saat adzan subuh berkumandang.
Hana membuka Facebooknya karena bosan di hadapkan dengan beberapa makalah yang harus ia buat. Ada sebuah permintaan pertemanan dan beberapa pemberitahuan. Matanya menyipit begitu membuka siapa yng nge-aad dia. Krena dia tau dengan pasti siapa yang ada di foto profil tersebut. Mungkin saja hanya kebetulan. Mereka sudah sejak  saat yang mengenaskan itu tak lagi berkomunikasi. Hana pun mengkonfirmnya. Begitu status nya berteman, ada seseorang tersebut langsung mengajak chatting.
Alfa Al-fakri     : Ini Alfa, Na, apa kabar?
Hana na          : Iya. Sehat.
Alfa Al-fakri     : Aku sekarang di Australia.
Hana limbung. Baru kemarin seorang temannya memberi tau bahwa ia mendapat salam dari Alfa, dan sekarng Alfa datang kemudian menyajikan berita yang tak pernah ia duga. Alfa yang selalu mengejutkannya. Dan ia yang selalu bodoh.
Hingga pagi menjelang,Hana belum juga memejamkan matanya. Dia hanya terpekur di atas kasur tanpa mengerjakan apa-apa.tugasnya ia biarkan terbengkalai berserakan di atas meja. Hana benar-benar tak habis fikir. Pasti ada yang slah dengan dirinya. Mengapa ia harus mimikirkannya. Chatting tadi malam kan biasa saja. Alfa hanya bercerita tentang dirinya sendiri dan sedikit sekali menanyakan tentangnya.
Hana melirik jam di mejanya. Jam enam pagi. Dia tidak akan memaafkan dirinya kalau dia sampai membuat dirinya terlihat konyol lagi. Dia bangkit. Menyambar handuknya. Sdn dalam waktu singkat terdengan byar byur dari kamar mandi.
Ambar terkejut saat Hana duduk di depan TV sepagi ini. Biasanya pagi-pagi seperti ini Hana sedang bergelut dengan bantal. Mungkin Hana masuk pagi pikir Ambar.
“Alfa di australia. Semalam chatting.” Hana meneguk air putih di meja. Kemudian matanya terfokus dengan gosip yang di tayangkan oleh salah satu station TV. Ambar memperhatikan perubahan emosi di wajah Hana. Tdak ada. Wajah itu datar seperti biasa. Berarti berita ini benar-benar nggak berpengaruh.
“Sejak kapan?” Ambar meng mbil snacknya yang ketiga.
“Sejak dua tahun yang lalu. Hebat ya dia. Keren. Ke Australia dengan beasisiwa “ setelah itu Hana sibuk mengunyah tic tac yang ada di tangannya. Ambar yang terlanjur penasaran hanya bisa diam. Namun ia punya ide. Kepalanya langsung terpasang senuah lampu bohlam seperti yang ada di kartun-kartun kesayangannya.
“Eh, Dedi kemarin gimana? Lo trima aja. Tajir lho. Baik lagi.”
“Apa-apaan. Nggak ah. Jelas aja dia nggak kayak yang kayak gue arepin. Buat lo aja.” Hana melempar tic tacnya. Kemudia pergi. Muka juteknya langsung membuat Ambar mengkeret.
Di sinilah Alfa berdiri. Di sebuah ruang yang tak ia ketahui. Ruang yang senantiasa memberinya asa. Namun juga ruang yang membuatnya terluka. Ruangan yang tak berpintu ini lah yang membuatnya terkunci di dalamnya tanpa bisa keluar. Sekuat apapun ia mendorong temboknya, tembok yang kokoh itu semakin mengimpitnya ketempat yang lebih gelap lagi. Sehingga ia menyerah. Menyerah pada keadaan. Dan membiarkan dirinya menyapa kembali.
Di sisi lain di tempat yang berbeda, Hana berlari dari kenyataan bahwa ia memang mencintai. Di sibukkanya dirinya hingga tak ada waktu yang tersisa hanya untuk duduk melamun. Jadilh ia seperti zombie. Dia telah membunuh asa yang singgah. Di hadapkan dengan asa, rasa, dan benci membuatnya jenuh. Jauh dari orang tua, jauh dengan asa, jauh dengan rasa, jangan pula ia jauh dari-Nya. Itulah harapannya yang tersisa.
*
Hana bengong. Mengingkari pemandangan di depannya namun siluet itu nyata. Bahkan sekarng tersenyum. Untuk beberapa saat ia harus mengatur nafasnya. Meyakinkan dirinya kalau ia masih hidup atau setidaknya tidk berada di alam mimpi.
Setelah beberap menit mereka duduk tanpa ada yang berbicara, akhirnya Alfa dengan susah payah membuka suara. Mengingat tujuannya adalah untuk sosok di sampingnya.
“Aku datang untuk minta maaf.” Alfa menelan ludah. Tidak ada reaksi apapun dari Hana. “Mengingat kita harus saling menyalahkan satu sama lain membuat ku tak nyaman.”
“Aku menyalahkan dirimu karena aku punya alasan untuk itu.” Suara Hana bergetar. Membuat Alfa sadar. Wanita itu menahan tangis.
“Aku tau itu kesalahan terbesar. Dan aku juga tau aku nggak bisa memaksakan kehendakku agar kamu maafin aku. Tapi bisakah kita tidak saling mengingkari apapun dari diri kita?”
“Tak ada yang ku ingkari di sini. Seharusnya kamu berpikir, apa yang kamu katakan dan kamu lakukan. Kalau aku bukan siapa-siapa, kenapa dulu masih di pertahankan. Itu hanya melukai ego ku.” Hana sekarang meanatap Ala. Dan Alfa tak sanggup menerima tatapan itu. Tatapan yang membencinya.
Ok. I see. Let you know something, aku menginginkanmu, sekarang dan mudah-mudahan sampi nanti.” Alfa mengacak rambut Hana. Kemudian menoleh. Dengan sangat terpaksa ia harus menelan kenyataan bahwa ia tertolak.
“Pulanglah.” Suara Hana seperti hanya sebuah bisikan. Sebenarnya itu di tujukan untuk Alfa, namun sepertinya Alfa tak mendengarnya.
“Aku memang menyukaimu. Maafkan aku. Namun aku tak bisa. Tidak selama ada lubang yang harus ku benahi. Juga tidak selama ada wanita yang mengharapkanmu melebihi aku.” Hana menatap hijaunya daun belimbing.
“Wanita?” Alfa sekarang benar-benar mengikuti arah pandang Hana.
“Iya. Kamu bisa melihat isi blog cewek itu. Aku tak perlu menjelaskan. Ia teman di facebookmu. Aku juga minta maaf karena selama ini aku memonitorimu.”
“Jadi?” Alfa bingung dengan penjelasan Hana yang beribet. Ia biasa belajar ilmu pasti. Bukan ilmu kata yang bertele-tele.
“Pulanglah. Dan aku meminta., bisakah kau menjaga hati. Untukmu, utnuk ku dan untuk cewek yang aku sebutkan tadi.?” Hana menatapnya sekilas. Lalu beralih ke pohon belimbing lagi.
Alfa mengeratkan pegangannya pada kursi. Dia tau maksud kalimat panjang Hana. Di tahanya dirinya untuk membiarkan angin itu berlalu. Karena sekuat apapun ia menggenggam angin, tak akan ada yang tersisa ditangannya. Ia tau kamana arah angin itu. Namun ia tak dapat menhannya untuk tetap berada di tempatnya.
THE END
 
abat tanganku, mungkin untuk yang terakhir kali
Kita berbincang tentang memori di masa itu
Peluk tubuhku usapkan juga air mataku
Kita terharu seakan tiada bertemu lagi
*courtesy of LirikLaguIndonesia.net
Bersenang-senanglah
Karna hari ini yang akan kita rindukan
Di hari nanti sebuah kisah klasik untuk masa depan
Bersenang-senanglah
Karna waktu ini yang akan kita banggakan di hari tua Reff:
Sampai jumpa kawanku
Semoga kita selalu
Menjadi sebuah kisah klasik untuk masa depan
Sampai jumpa kawanku
Semoga kita selalu
Menjadi sebuah kisah klasik untuk masa depan
Bersenang-senanglah
Karna hari ini yang akan kita rindukan
Di hari nanti…
Ke: Reff
Mungkin diriku masih ingin bersama kalian
Mungkin jiwaku masih haus sanjungan kalian

Jumat, 20 Mei 2011

lari

bagai menggenggam angin...
tai kemana arahnya
tanpa tau kemana berlabuhnya
merasakannya d antara sel kulit
namun, tak juga bisa menahannya di genggaman tangan q